Apa Sih Hukum Aqiqah

Setelah kita melihat hadits-hadits tentang pensyariatan aqiqah pada posting sebelumnya, lantas apakah hukum aqiqah itu sendiri? Wajib ataukah sunnah?

Mengenai masalah ini, para ulama terdapat silang pendapat.

Berdasarkan hadits,

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَتُهُ فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا

Dari Salman bin ‘Amir Adh Dhabbi, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada (setiap) anak laki-laki (yang lahir) harus diaqiqahi, maka sembelihlah (aqiqah) untuknya” (HR. Bukhari no. 5472), juga berdasarkan hadits lainnya, sebagian ulama menyatakan bahwa hukum aqiqah itu wajib semacam ulama Zhohiriyah (Daud, Ibnu Hazm, dkk), dan Al Hasan Al Bashri. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah sunnah. Sedangkan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa hukum aqiqah itu tidak wajib dan juga tidak sunnah. –Demikian dikatakan oleh Asy Syaukani dalam Nailul Author–[Nailul Author, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, 8/154, Mawqi’ Al Waroq.]

Hadits dari jumhur ulama yang menyatakan hukum aqiqah adalah sunnah berpegang pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ

Barangsiapa yang senang untuk mengaqiqahi anaknya, maka lakukanlah.” [HR. Ahmad 2/182. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini hasan.]

Hadits ini menunjukkan bahwa aqiqah itu tidak wajib karena di sini dikatakan boleh memilih. Dalil ini adalah indikasi yang memalingkan perintah yang disebutkan dalam hadits-hadits yang memerintahkan aqiqah kepada perintah sunnah.[Nailul Author, 8/154.]

Lalu bagaimana dengan pendapat Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang menyatakan bahwa hukum aqiqah tidak wajib dan tidak pula sunnah?

Ibnul Mundzir –sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Al Fath– mengatakan, “Ulama Hanafiyah (ashabur ro’yi) yang mengingkari sunnahnya aqiqah telah menyelisihi hadits-hadits shahih mengenai hal ini. Sebagian mereka berdalil dengan hadits riwayat Imam Malik dalam Al Muwatho’ dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari ayahnya, ia menanyakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai aqiqah. Jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَا أُحِبّ الْعُقُوق

Aku tidak menyukai aqiqah”, seakan-akan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyukai penamaan aqiqah. Lalu beliau bersabda,

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَد فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسَك عَنْهُ فَلْيَفْعَلْ

Siapa saja yang dilahirkan anak untuknya, maka ia suka dinusuk (diaqiqahi), maka lakukanlah.”[HR. Ahmad 5/430 dan Abu Daud 2842. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan.]

Dalam riwayat Sa’id bin Manshur, dari Sufyan, dari Zaid bin Aslam dari seorang Bani Dhomroh dari pamannya, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai aqiqah sedangkan beliau di mimbar di Arofah, lalu beliau menyebutkan semacam tadi.” Hadits ini pun memiliki penguat dari hadits ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, dikeluarkan oleh Abu Daud. Dua hadits ini dikuatkan satu dan lainnya. Abu ‘Umr mengatakan, “Aku tidak mengetahui hadits tersebut marfu’ (sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) kecuali dari dua riwayat ini.” Al Bazzar dan Abusy Syaikh juga telah mengeluarkan hadits tentang aqiqah dari Abu Sa’id, namun hadits tersebut bukanlah jadi hujjah bagi yang menyatakan tidak disyari’atkannya aqiqah. Bahkan akhir hadits jelas-jelas menetapkan disyariatkannya aqiqah. Sedangkan yang dimaksud dalam hadits adalah lebih utama menyebut aqiqah dnegan nasikah atau dzabihah, dan dilarang menyebutnya dengan aqiqah. Telah dinukil dari Ibnu Abid Dam dari beberapa sahabat mengenai penamaan semacam ini sebagaimana tidak disukai pula menyebut Isya dengan ‘atamah.”[Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 9/588, Darul Ma’rifah, 1379.]

Kesimpulan: Aqiqah adalah suatu yang disyariatkan tidak sebagaimana pendapat ulama Hanafiyah. Hukumnya berkisar antara wajib dan sunnah. Sedangkan kami sendiri lebih cenderung pada pendapat jumhur (mayoritas) ulama yang menyatakan hukum aqiqah adalah sunnah. Namun sudah sepantasnya bagi orang yang mampu yang diberi kelebih rizki oleh Allah Ta’ala tidak meninggalkan syari’at yang mulia ini.

Sayyid Sabiq –rahimahullah– memiliki perkataan yang amat baik. Beliau berkata, “Hukum aqiqah adalah sunnah muakkad (sunnah yang amat dianjurkan), walaupun si ayah (yang membiayai aqiqah) adalah orang yang dalam keadaan sulit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap melakukan aqiqah , begitu pula sahabatnya. Telah diriwayatkan oleh penyusun kitab sunan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengaqiqahi Al Hasan dan Al Husain masing-masing dengan satu ekor kambing. Sedangkan ulama yang mewajibkan aqiqah adalah Al Laits dan Daud Azh Zhohiri.”[Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq, 3/326, Darul Kutub Al ‘Arobi, Beirut.]

Sayyid Sabiq menyatakan bahwa jika si ayah dalam keadaan sulit sekalipun hendaklah melakukan aqiqah. Apa yang beliau utarakan senada dengan perkataan Imam Ahmad –rahimahullah-. Imam Ahmad pernah berkata,

إذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ مَا يَعُقُّ ، فَاسْتَقْرَضَ ، رَجَوْت أَنْ يُخْلِفَ اللَّهُ عَلَيْهِ ، إحْيَاءَ سُنَّةٍ .

Jika seseorang tidak memiliki kemampuan untuk mengaqiqahi (buah hatinya), maka hendaklah ia mencari utangan. Aku berharap ia mendapatkan ganti di sisi Allah karena ia berarti telah menghidupkan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.[Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 11/120, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405]

Dikutip Dari Laman : https://rumaysho.com/1071-hadiah-di-hari-lahir-5-sunnah-aqiqah-bagi-si-buah-hati.html


Pertanyaan

Allah telah mengkaruniai aku seorang putri, sekarang berumur 3 bulan. Akan tetapi saya belum menyembelih aqiqah dan belum bersodakah pengganti untuknya. Apakah saya berdosa dan apa solusinya?

Teks Jawaban :

Alhamdulillah

Aqiqah hukumnya sunnah muakkad. Tidak berdosa bagi orang yang meninggalkannya. Hal itu sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya saya kira dari kakeknya berkata, Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ ، عَنْ الْغُلامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ ، وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ .(الحديث حسنه الألباني في صحيح أبي داود).

“Siapa yang dikarunia seorang anak, dan dia ingin menyembelih untuknya, hendaknya dia menyembelih. Untuk anak lelaki dua kambing yang cukup. Dan untuk anak wanita satu kambing. (Hadits dihasankan oleh Albany di Shahih Abi Dawud).

Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengaitkan perintahnya berdasarkan keinginan pelakunya. Ini sebagai dalil bahwa ia adalah sunah bukan wajib. (Silahkan lihat Tuhfatul Maudud, hal. 157).

Akan tetapi seorang muslim hendaknya jangan meremehkannya berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

كل غلام رهين بعقيقته تذبح عنه يوم سابعه ويحلق رأسه ويسمى (رواه النسائي، رقم 4220 وأبو داود، رقم 2838 والترمذي، رقم  1522 وابن ماجه، رقم 3165 وصححه الألباني في صحيح أبي داود)

“Setiap bayi tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh, digundul kepalanya dan diberi nama.” (HR. Nasa’i, no. 4220, Abu Daud, no. 2838, Tirmizi, no. 1522,  Ibnu Majah, 3165, dinyatakan shahih oleh Albany di Shahih Abi Dawud).

Selayaknya anda melakukan aqiqah sekarang, yaitu dengan menyembelih seekor kambing dengan niat aqiqah.

Terdapat dalam Fatawa Lajnah Daimah (11/934): Aqiqah Sunnah muakkadah, untuk anak lelaki dua kambing dengan syarat yang sama seperti untuk kurban. Sedangkan untuk anak wanita satu kambing. Disembelih pada hari ketujuh, kalau diakhirkan dari hari ketujuh, dibolehkan disembelih kapanpun waktunya. Tidak berdosa jika ditunda. Yang lebih utama disegerakan jika hal itu memungkinkan.”

Peringatan: Ungkapan anda ‘Saya belum bersodakah pengganti darinya’ seyogyanya diketahui bahwa sadakah dengan uang tidak dapat mengganti posisi aqiqaah. Karena maksud dari aqiqah adalah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan menyembelih. (Silakan merujuk soal no. 34974)

Wallahu a’lam .

Dikutip Dari : https://islamqa.info/id/answers/38197/apakah-berdosa-jika-meninggalkan-aqiqah-atau-menundanya

Spread the love